Hampir 30 Tahun Jadi Ibu Kota, GAMNR Nilai Tanjungpinang Belum Rasakan Dampak Nyata

GAMNR

Tanjungpinang – analoginews.com – Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR) Tanjungpinang menilai bahwa hampir 30 tahun menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, dampak nyata keberadaan status tersebut bagi kehidupan masyarakat Tanjungpinang masih jauh dari harapan.

GAMNR menyoroti posisi Tanjungpinang yang secara geografis dan administratif berada di antara tiga pemerintahan, yakni Pemerintah Kota Tanjungpinang, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, dan Pemerintah Kabupaten Bintan, yang masing-masing memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun ironisnya, kondisi kota justru dinilai mengalami kemunduran dan menghadapi persoalan sosial-ekonomi yang semakin kompleks.

Bahkan, berdasarkan sejumlah indikator kesejahteraan, Tanjungpinang disebut berada dalam jajaran daerah dengan tingkat kemiskinan yang masih memprihatinkan di Kepulauan Riau.

Menurut GAMNR, status ibu kota seharusnya menghadirkan efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penguatan pelayanan publik, serta arah pembangunan yang jelas, terukur, dan progresif. Namun hingga saat ini, manfaat tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.

GAMNR menegaskan bahwa harapan masyarakat terhadap Tanjungpinang sebagai pusat pemerintahan provinsi merupakan sesuatu yang normatif dan wajar. Sebagai ibu kota, Tanjungpinang dituntut memiliki terobosan kebijakan serta keberanian kepemimpinan untuk keluar dari pola pembangunan lama yang cenderung stagnan, bukan sekadar menjalankan rutinitas administratif.

“Tanpa langkah strategis dan keberanian politik yang nyata, Tanjungpinang berisiko terus terjebak dalam romantisme masa lalu,” demikian pandangan GAMNR.

GAMNR mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, Tanjungpinang dikhawatirkan hanya akan menjadi kota kenangan, bukan kota harapan bagi generasi hari ini maupun masa depan.(Redaksi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data