Dalam beberapa tahun terakhir, tuduhan terhadap perusahaan-perusahaan China yang diduga mencuri teknologi dari Amerika Serikat semakin meningkat, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pakar keamanan dan industri teknologi.
Salah satu kasus menonjol melibatkan Hytera Communications, raksasa telekomunikasi China, yang dituduh mencuri teknologi radio dari Motorola Solutions. Hytera diduga merekrut mantan karyawan Motorola yang memiliki akses ke informasi teknis rahasia, yang kemudian digunakan untuk mengembangkan produk pesaing.
Selain itu, FBI telah memperingatkan bahwa China berupaya mencuri teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan di AS untuk meningkatkan program AI mereka sendiri dan melancarkan operasi pengaruh asing. Seorang pejabat senior FBI menyatakan, “Negara-negara musuh AS, khususnya China, menimbulkan ancaman signifikan bagi perusahaan Amerika dan keamanan nasional dengan mencuri teknologi dan data AI kami.
Direktur FBI, Christopher Wray, juga menegaskan bahwa China menggunakan berbagai metode untuk mencuri teknologi Amerika, termasuk melalui spionase siber dan pencurian penelitian. Ia menambahkan bahwa China menargetkan perusahaan yang memproduksi berbagai produk, mulai dari perangkat lunak untuk turbin angin hingga alat kesehatan.
Menanggapi tuduhan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, menyatakan bahwa pernyataan tersebut “menjelek-jelekkan China” dan mencerminkan “mentalitas Perang Dingin.”
Para pakar menilai bahwa praktik spionase industri oleh China bersifat “pervasif” dan menargetkan berbagai sektor, mulai dari penerbangan hingga farmasi. Mereka memperingatkan bahwa perusahaan di seluruh AS, dari kota besar hingga kecil, berisiko menjadi target.
Kasus-kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan AS dalam melindungi kekayaan intelektual mereka dan menegaskan perlunya langkah-langkah keamanan yang lebih ketat untuk mencegah pencurian teknologi di masa depan.













