Bintan – analoginews.com – Kasus dugaan sabotase berupa pemotongan tali jangkar sejumlah kelong apung milik nelayan di Desa Berakit, Kabupaten Bintan, masih menjadi perhatian publik, Jumat (29/5/2026).
Peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu sebulan terakhir itu menimbulkan keresahan di tengah masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil melaut.
Kepala Desa Berakit, Muhammad Darussalam, angkat bicara terkait laporan sejumlah warga yang menjadi korban dugaan pengrusakan kelong apung tersebut.
Menurut Darussalam, selama ini nelayan Desa Berakit kerap merasa resah terhadap aktivitas nelayan dari luar daerah yang diduga beberapa kali melakukan pemotongan tali jangkar kelong milik warga.
“Benar, nelayan Desa Berakit selalu resah terhadap nelayan dari luar. Sebab, nelayan luar sudah beberapa kali melakukan pemotongan tali jangkar kelong milik nelayan,” ujar Muhammad Darussalam.
Ia menyebutkan beberapa pemilik kelong apung yang menjadi korban, di antaranya Niko, Akbar alias Jang Pari, dan Hakim.
“Untuk kelong apung milik Niko, dilaporkan hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya,” ungkapnya.
Darussalam berharap aparat penegak hukum dapat segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku yang diduga terlibat dalam pengrusakan fasilitas nelayan tersebut.
“Saya mengharapkan kepada pihak penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas terhadap peristiwa tersebut,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sebelumnya warga sempat menangkap seorang pelaku yang diduga melakukan pemotongan tali jangkar kelong milik warga Desa Berakit. Pelaku tersebut diketahui merupakan warga Desa Mantang, Kecamatan Bintan Pesisir.
“Dalam bulan ini sudah tertangkap pelaku nelayan luar yang memotong kelong warga Desa Berakit dan tertangkap basah, yaitu warga Desa Mantang,” ujarnya.
Namun demikian, setelah dilakukan upaya perdamaian antara kedua belah pihak, pihak yang sebelumnya diamankan justru melaporkan balik warga Desa Berakit.
Darussalam juga mengimbau masyarakat yang mengalami kerugian akibat tindakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab agar segera melapor kepada aparat penegak hukum guna diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, ia menilai keberadaan sejumlah nelayan dari luar daerah kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat setempat.
“Nelayan luar sering membuat resah warga Desa Berakit karena mereka juga sering mabuk-mabukan dan berkelahi sesama mereka,” pungkasnya.
Sementara itu, informasi yang diterima redaksi menyebutkan bahwa salah satu korban dugaan sabotase pemutusan tali jangkar kelong apung, yakni Akbar, mengalami kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp100 juta.
Kerugian tersebut meliputi hilangnya dua unit fiber, tali, dan jangkar. Selain itu, Akbar juga disebut harus mengeluarkan biaya negosiasi setelah kelong apung miliknya ditemukan hanyut di perairan Malaysia oleh aparat kepolisian perbatasan negara tersebut.
Saat ini kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Bintan. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi lebih lanjut terkait perkembangan penanganan laporan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya menghimpun informasi lebih lanjut terkait pihak-pihak yang diduga menjadi dalang di balik aksi sabotase tersebut, termasuk motif yang melatarbelakanginya.
(Zen/Red)
