Oleh Redaksi Analoginews.com
Bintan – Analoginews.com — Dalam dinamika pembangunan daerah, perhatian sering kali terfokus pada proyek-proyek besar dan modern. Namun di balik kesederhanaannya, Pelabuhan Pelayaran Rakyat Batu 16 yang berlokasi di Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, justru memainkan peran vital sebagai urat nadi ekonomi masyarakat pesisir serta menjadi solusi nyata dalam menekan angka pengangguran di wilayah tersebut.
Selama lebih dari tiga dekade, pelabuhan ini beroperasi sebagai penghubung utama jalur pelayaran rakyat antarwilayah di Bintan. Aktivitas di pelabuhan tidak sekadar arus keluar-masuk barang, melainkan telah membentuk ekosistem ekonomi kerakyatan yang melibatkan ratusan warga sekitar — mulai dari buruh bongkar muat, pedagang kecil, hingga penyedia jasa transportasi.
Dari pelabuhan inilah roda ekonomi masyarakat bawah berputar dan berbagai lapangan kerja baru terus tercipta.
Menurut warga Toapaya Asri, Rahmad S., pelabuhan Batu 16 telah menjadi tumpuan hidup bagi banyak warga di sekitarnya.
“Dulu banyak warga yang tidak punya pekerjaan tetap. Sekarang mereka bisa bekerja di sekitar pelabuhan — ada yang bantu bongkar muat, berdagang, atau mengangkut barang. Pelabuhan ini benar-benar membuka peluang kerja bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Joni, selaku pengelola pelabuhan, menegaskan komitmennya untuk menjaga keteraturan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Selama pelabuhan ini beroperasi, kami melihat banyak warga terbantu secara ekonomi. Pelabuhan rakyat bukan sekadar sarana transportasi, tetapi juga pendorong ekonomi dan solusi nyata terhadap pengangguran,” katanya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan berbasis kerakyatan masih sangat relevan. Pelabuhan Batu 16 menjadi contoh konkret bagaimana infrastruktur rakyat yang dikelola dengan baik dapat memberikan dampak sosial dan ekonomi yang luas — tanpa perlu investasi besar atau intervensi rumit.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih, baik melalui peningkatan fasilitas, pelatihan masyarakat, maupun kebijakan yang berpihak kepada pelaku ekonomi lokal.
Pada akhirnya, pelabuhan rakyat seperti Batu 16 bukan hanya sekadar tempat berlabuh kapal, tetapi juga tempat berlabuhnya harapan ribuan masyarakat pesisir. Ia menjadi simbol ketahanan ekonomi lokal, bukti bahwa pembangunan sejati berakar dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Menanggapi berbagai isu negatif dan provokatif yang sempat beredar, Joni membantah tudingan adanya praktik pembagian “jatah” di lingkungan pelabuhan yang dikelolanya.
“Semua kegiatan kami lakukan secara transparan dan sesuai aturan. Tidak ada bagi-bagi jatah seperti yang diberitakan,” tegasnya. Selasa(6/10/25) (Redaksi)
